Nama : Tomas
Ginta Tarigan Gersang
NIM : 1571504388
Kelas : Y J
Tugas ICT
BAB
1
INDIKATOR
KERUNTUHAN JURNALISME
A. Jurnalisme Bias
Harus diakui kepemimpinan Gubernur
DKI Jakarta, Jokowi Widodo atau yang akrab disapa Jokowi,unik dan fenomenal.
Unik karena gaya kepemimpinan yang ditampilkan berbeda dengan mayoritas kepemimpinan
yang ada mulai tingkat presiden, gubernur,walikota, hingga bupati. Bahkan ngotot
tidak salah meskipun divonis bersalah oleh pengadilan; Jokowi selalu turun ke
lapangan atau blusukan; tidak mau menerima laporan Asal Bapak Senang(ABS).
Jokowi merupakan figur pemimpin yang
rela berkotor dengan lumpur.Ia bukan sosok yang berada di menara gading; tidak
terpengaruh riuhnya wacana lisan dan omong besar seperti pejabat publik lain.
Jokowi bukan pemimpin yang jago teori minim aksi atau No Action Talk
Only(NATO). Kunci utama keberhasilan kepemimpinan dalam bentuk dan level apapun
adalah perbuatan, bukan sejumlah orasi, segepok konsep,atau segenap perintah.
Jokowi memiliki kepemimpinan transformatif.
Secara singkat kepemimpinan transformative adalah kepemimpinan yang
mentransformasikan sikap, gagasan, dan perilaku; kepemimpinan yang memberi
rakyat atau bawahannya inspirasi. Kunci kepemimpinan transformatif adalah
memberi contoh. Ingat rumus universal teladan adalah top-down dari atas ke bawah bukan sebaliknya(buttom up).
Berdasarkan data dari kementerian Dalam
Negeri,sebanyak 70% kepala daerah terjerat kasus korupsi.Terdiri dari 21
gubernur, wakil gubernur (7), bupati (156), wakil bupati (46), wali kota (41),
dan wakil wali kota (20). Bersama wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama
(Ahok), Jokowi mempublikasikan penghasilan sebagai pejabat negara melalui media
sosial. Publik bisa mengontrol dan mengkritisinya. Jokowi mengenyahkan sumber awal korupsi, ketidakterbukaan informasi dan anggaran.
Tak Kritis
Menurut teori jurnalistik,unik dan
memiliki keluarbiasaan merupakan dua poin dari news values (nilai berita). Satu nilai berita lain yang tidak
sengaja dimiliki Jokowi adalah proximity (kedekatan).
Benar adanya ketika ia menjadi Walikota Solo, Jokowi sudah menjadi media dearling. Pembelaan yang sama
diberikan media kepada Jokowi ketika menjalankan program yang sensitif dan
tidak biasa seperti lelang jabatan lurah dan camat, penggusuran di bantaran
Waduk Pluit, pembersihan PKL di Tanah Abang, terakhirpenggusuran warga di
bantaran Waduk Ria Rio di Pulomas. Padahal dari sudut jurnalistik penderitaan,
deskripsi, atau statement dari
objek/penderita jauh lebih menarik daripada pengambil kebijakan.
Dalam
konteks inilah biasa keunikan dan kehebatan Jokowi menimbulkan bias media. Di
hadapan Jokowi, media sudah bersikap tidak adil; meninggalkan karakter
kekritisannya; menjadi ‘anak mama’. Terhadap Jokowi, media lupa fungsi utamanya
sebagai watchdog (kontrol terhadap kekuasaan).
Sebaliknya, dalam pemilihan presiden 2014, Jokowi kemudian menjadi musuh
Koalisi Merah Putih yang mengusung Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.Dengan
dukungan Aburizal Bakrie pemilik TVOne dan ANTV serta dari Hary Tanoesoedibjo
yang memiliki MNC Group (RCTI, MNC, dan Global TV dan media cetak serta online.
B.
Jurnalisme dan ‘Amplop Besar’
Pada duamilist institusi wartawan yang berbeda tertera ‘Undangan
mengambil THR (Tunjangan Hari Raya)’ di salah satu instansi pemerintah.Singkat
kata di dua milist tersebut terjadi
pro dan kontra. Inti dari isi milist
tersebut adalah institusi pemerintah tersebut menyediakan THR untuk wartawan
yang bertugas (ngepos) atau sehari-hari meliput kegiatan di institusi
pemerintah itu. Inilah yang penulis
disebut sebagai amplop kecil; recehan.
Dalam konteks percepatan produksi
berita itulah sesungguhnya profesi wartawan merupakan profesi yang terjajah;
profesi yang tidak memiliki pencerahan kecuali bekerja, bekerja, dan bekerja;
profesi mekanistik; mesin yang harus terus berproduksi karena tuntutan
pemodal.Bukan hanya memberi keuntungan finansial tetapi juga ia memiliki agenda
terselubung (hidden agenda).
Pengusaha
media adalah pengusaha yang bukan orang sabar dalam berinvestasi jangka panjang
tetapi yang mencari keuntungan secepatnya dengan memanfaatkan kedekatan dengan
kekuasaan. Dekat dengan kekuasaan dekat dengan sumber dana/keuangan. Inilah yang penulis disebut dengan amplop
besar. Jumlahnya tak terhitung; tidak ada batasnya; tidak ada serinya.
Dengan
pendekatan konsep kekuasaan versi Michael Foulcault kekuasaan memproduksi
pengetahuan dan pengetahuan memproduksi kekuasaan –kekuasaan media
(pengetahuan) dan kekuasaan politik begitu sempurna dimainkan di negeri ini.
Media dijadikan pemiliknya sebagai political
tool gerakan yang dipimpinnya.
C.
Jurnalisme dan Budaya Copy Paste
Kehadiran
teknologi komunikasi dan informasi serta teknologi transportasi menyebabkan
percepatan dan kecepatan dalam segala hal, termasuk dalam dunia jurnalisme,
khususnya berkaitan dengan produksi berita di berbagai media. Komunikasi dan
informasi berkembang ke arah penggelembungan (excrescence), yang menciptakan masyarakat kegemukan (exrescental society); kegemukan
informasi, komunikasi, tontonan, berita, dan data. Yang terpenting dari berita
kini adalah kuantitas sebagai akibat dari jeratan kapitalisme global yang
berintikan tiga ideologi secara bersamaan, materialisme-pragmatisme-hedonisme.
Dalam
konteks jurnalisme, misalnya, percepatan dan kecepatan produksi berita telah
mengubah alur berita dan kinerja bagi kru redaksi dan hasil berita bagi
masyarakat. Berita yang harus berangkat dari kejadian atau peristiwa yang
semula baru bisa dinikmati esok harinya melalui surat kabar, kini berubah
dramatis dan drastis. Semua media khususnya, online berlomba menyajikan yang
terbaru; mereka mengejar kesegeraan.
Pertumbuhan
media online atau situs berita bak jamur di musim hujan telah memunculkan
masalah baru.Problem tersebut kemudian menjadi penyakit kronis yang kini mulai
membudaya dalam jurnalisme, yakni budaya salin dan tempel (copy paste). Lumrah bila di media online bahkan kini ke merambah
ke media yang lain, berita yang disajikan ke publik hanya kuah tanpa daging.
Dalam konteks inilah istilah penggelembungan informasi versi Yasraf Amir Piliang menemukan
kebenarannya. Berita berkembang ke arah over-production
yang kemudian menghasilkan over-information.
Aspek
negatif lain dari budaya copy paste
adalah menumpulkan sense of news.
Penciuman terhadap berita diasah melalui pengalaman di lapangan (field of experience). Semakin lama di
lapangan kian banyak pengalaman, kian tajam mengendus berita. Sebaliknya,
wartawan yang hanya mengandalkan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi
akan kehilangan kreativitas.
D.
Jurnalisme Pembuat Heboh
Perhaps
what the media thought was big national news was not what was really important
to the stock market (Robert J. Shiller).
Kejatuhan
rezim Soeharto 13 tahun silam, revolusi di belahan Afrika, kredit perumahan
yang macet di Amerika Serikat, dan berbagai peristiwa besar lainnya pernah
menggemparkan jagat ini. Peristiwa-peristiwa besar itu mengubah peta perjalanan
secara radikal bagi yang mengalami atau terkena imbas kejadian tersebut.
Apalagi dunia kini hanya sebuah perkampungan global (global village) seperti kata Mc.Luhan.
Konstruksi
Sosial Media Massa
Seraya
melontarkan kritik terhadap Berger dan Luckman, Burhan Bungin menyebutkan media
massa, termasuk surat kabar, menjadi variable yang sangat substantive dalam proses eksternalisasi, objektivikasi, dan internalisasi.
Karena pengaruh media massa itulah ia memunculkan teori baru sekaligus revisi
terhadap Berger dan Luckman dengan tiga
terminologi, yaitu: eksternalisasi,
subjektivikasi, dan intersubjektif. Menurut
Burhan Bungin, ada empat tahapan kelahiran konstruksi sosial media massa yaitu:
penyiapan materi konstruksi, sebaran kontruksi, pembentukan konstruksi
realitas, dan konfirmasi. Dari empat tahapan itu melahirkan dua model
konstruksi realitas media massa, yaitu model analog dan refleksi realitas.
Konstruksi Berita
Berita
lebih berpengaruh membentuk opini pembaca daripada tajuk rencana. Inilah yang
disebut Aart Van Zoest, seperti dikutip M. Sobur, bahwa tidak ada teks yang
tidak pernah lepas dari ideologi dan memiliki kemampuan untuk memanipulasi
pembaca kearah suatu ideologi.
Ada
tiga pertimbangan sebuah peristiwa menjadi berita di surat kabar, yaitu:
ideologis, politis, dan bisnis. Pertimbangan ideologis terjadi karena faktor pemilik
atau nilai-nilai yang dihayatinya. Pertimbangan politis berangkat dari
kenyataan bahwa pers tidak terlepas dari kehidupan politik. Apalagi pers adalah
disebut sebagai pilar keempat demokrasi (the
fourth estate of democracy).
Meski
demikian, sebagaimana pekerja jurnalistik yang menghasilkan berita,
keberpihakan yang utama kata Bill Kovach dan Tom Rosentiel harus pada
kebenaran. “Journalism’s first obligation
is to the”truth,meski bersifat debatable dan plural, kebenaran yang diusung
teks berita adalah kebenaran milik masyarakat. Cara yang paling penting dalam
memihak kebeneran adalah loyalitas kepada masyarakat (warga Negara) (Journalism’s first loyality is to citizens)
dan dengan elemen ketiga, yaitu disiplin dalam memverifikasi fakta (the essence of journalis is a discipline of
verivication).
Era Baru Konstruksi Media
Selain
sebagai media akses, internet juga kerap disandingkan sebagai konvergensi media
dan media internal. Kini, hampir semua media cetak dan elektronik membarenginya
dengan bentuk berita online, e-paper, dan
live streaming. Sebelumnya kita mendengar istilah tele-health, tele banking, tele-conference dan tele-tele yang lain
sebagai implikasi dari revolusi komunikasi. Namun menurut Yasraf Amir Piliang
teknologi realtime memerangkap setiap
orang dalam tuntutan akan hasil yang segera dengan mengabaikan proses.
Teknologi
realtime di dalam internet telah memungkinkan setiap penggunanya selalu
mendapatkan informasi secara segera dan live setiap waktu; live business, live music, live performance, live video, live new, and
live attraction. Meski akurasi informasi pada media akses masih perlu
diuji, tetapi dalam ranah kecepatan penyebaran informasi, internet adalah nomor
wahid.Kehadiran internet di telepon seluler, misalnya kian mempertegas dominasi
kecepatan informasi melalui internet.
E.
Jurnalisme Tanpa Konfirmasi
Dalam
konteks inilah sesungguhnya teori kekuasaan dan pengetahuan dari Michel
Foucault menemukan kebenarannya. Menurut Foucault power produce knowledge, yang didefinisikan sebagai pihak yang
berkuasalah yang membuat pengetahuan. Adanya hubungan antara kekuasaan dan
pengetahuan secara langsung menjelaskan representasi dari hubungan ‘power-knowledge’. Knowledge is power mengkontrol
tatanan sosial politik. Dipihak yang berseberangan adalah power is knowledge yang bermakna kekuasaan menumbuhkan pengetahuan.
Menurut
survei itu, mahalnya harga kebutuhan pokok (27,9%) dan kondisi jalan/sarana
transportasi (22,2%) diseluruh Indonesia menjadi masalah utama masyarakat saat
ini. Urutan selanjutnya yang menjadi masalah utama adalah sulitnya mencari
lapangan kerja (16,3%) dan maraknya korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN)
sebanyak 12,1%.
Dalam
konteks itulah sesungguhnya korupsi sebagai agenda setting tersendiri dari
masing-masing media. Kasus bail-out Bank Century, misalnya, Koran Tempo tidak
menjadi konsentrasi utama karena ada Sri Mulyani dan Boediono. Keduanya dekat
dengan pendiri Grup Tempo, Goenawan Mohamad.Mereka memiliki ideologi yang sama,
liberal.
Yang
paling kentara dalam bisnis korupsi di media adalah berita tanpa konfirmasi.
Kalimat SAMPAI BERITA INI DITURUNKAN YANG BERSANGKUTAN, TELEPON TERSANGKA TIDAK
BISA DIHUBUNGI, PESAN SINGKAT TIDAK DIBALAS, DAN EMAIL DARI REDAKSI BELUM
DIJAWAB. Anehnya, kalimat diatas sudah menjadi kebenaran, doktrin, dan
judgement sebagai konfirmasi.
Dalam
perkembangan yang lebih maju, keseimbangan dalam berita bukan lagi bersandar
pada cover both sides, tetapi sudah cover all sides atau cover multisides,
artinya sebuah berita korupsi, yang dimuat media mau tidak mau, suka tidak suka
harus ada konfirmasi.
Berita Tanpa Verifikasi
Padahal
menurut pakar jurnalistik Bill Kovach dan Tom Rosentiel, verifikasi fakta
merupakan jantung dari kebenaran sebuah berita. Apa itu verifikasi fakta?
Lagi-lagi jika mengacu pada dua mbah jurnalisme Kovach dan Rosentiels. Keduanya
mengatakan ada lima item indikator dalam verifikasi fakta yaitu:
Ø Wartawan
jangan menambah atau mengarang apa pun.
Ø Jangan
menipu atau menyesatkan pembaca, pemirsa, maupun pendengar, bersikaplah
setransparan.
Ø Sejujur
mungkin tentang metode dan motivasi.
Ø Bersandarlah
terutama pada reportase sendiri, dan
Ø Bersikaplah
rendah hati.
Filter Konseptual
Dalam
konteks penyebutan teroris oleh media selayaknya khalayak aktif sehingga ia
memiliki kata pakar komunikasi Aubre Fisher filter konseptual. Menurut teori
ini, manusia bisa menyaring informasi yang diterima yang disodorkan oleh media.
Pesan yang diberikan media tidak serta merta memengaruhi sikap dan perilaku
khalayak.
Dengan
memiliki filter konseptual, masyarakat dalam istilah Raymond Bauer menjadi
khalayak kepala batu. Teori ini menyatakan khalayak adalah aktif dan sangat
berdaya. Media seharusnya menurut Kovach dan Rosentiel berpihak pada warga
bukan Negara atau kekuasaan.
F.
Jurnalisme, Adakah Etika ?
Menurut
pakar komunikasi Ibnu Hamad, ada tiga strategi yang digunakan media untuk
membuat wacana, yaitu: signing, framing, dan primng. Signing adalah penggunaan tanda-tanda
bahasa, baik verbal maupun non-verbal. Framing
adalah pemilihan wacana berdasarkan pemihakan dalam berbagai aspek wacana.
Sedangkan Priming berarti mengatur
ruang atau waktu untuk mempublikasikan wacana di hadapan khalayak.
Secara
filosofis, jurnalisme harus tetap berpijak pada prinsip kebenaran,
independensi, check and balance, cover all (multi) sides, verifikasi fakta, dan
keberpihakan pada yang lemah. Etika jurnalisme berfungsi untuk menjamin media
memproduksi jurnalisme yang berkualitas dan publik pun mendapat informasi yang
sehat dan mencerahkan.
BAB II
PENYEBAB KERUNTUHAN JURNALISME
A.
Postmodernisme
Alam
pikiran postmodern mengutuk apa pun, tetapi tidak mengusulkan apa pun.
Jika
mengikuti tiga fase kehidupan manusia versi August Comte (mistis, teologis, dan
positivis), peralihan zaman dari mistis ke metafisis diguncang oleh munculnya
agama. Istilah postmodernisme pertama kali diapungkan oleh Frederico di Onis
pada tahun 1930-an dalam karyanya Antologia
de Ia Poesia Espanola a Hispanoamericana.Ia menyebutnya sebagai kritik
terhadap sastra di Amerika Latin dan Prancis. Sejarahwan kondang Arnold Toynbee
menggunakan istilah ini dalam A Brief
History. Menurutnya, fase postmodernisme ditandai dengan gejolak, perang,
revolusi yang menimbulkan anarki, runtuhnya rasionalitas, dan pencerahan.
Gagasan Kuhn tersebut dikemas dengan istialh The Structure of Saintific Revolution.
Masyarakat Postmodernisme adalah masyarakat yang secara finansial, pengetahuan, relasi,
dan semua prasyarat masyarakat modern terlampaui. Artinya gejala postmodernisme
muncul diberbagai belahan dunia jika masyarakatnya sudah memiliki keterpenuhan
material, namun ia kering dari sudut kekayaan batin seperti dikemukakan oleh
Burhan Bungin dimuka. Gerakan new age merupakan
kecenderungan ideologi postmodernisme yang sangat plural dan ekspresi serta
sikap antagonism dalam sebuah relasi subordinasi.
Menurut
Yasraf Amir Piliang, kritik terhadap modernisme dilakukan dalam dua arah.
Pertama, kritik diri (self-critism)
seperti yang dilakukan Madzhab Frankfrut, Habermas, Adorno, Horkheimer, Marcuse
yang mencari titik-titik kritis ideologis dari modernitas dalam rangka
melanjutkan proyek modernitas yang belum rampung. Kedua, kritik dari luar
modernistas atau yang ingin meruntuhkan modernitas yang dianggap telah
kehilangan daya utopisnya.
Dalam
catatan Pauline M. Rosenau ada lima alasan mengapa terjadi krisis dalam
modernisme; Pertama, modernisme
dinilai tidak bisa menghadirkan kehidupan masa depan kehidupan yang lebih baik
seperti yang digembar-gemborkan para penganut sejatinya. Kedua, adanya kesewenang-wenangan dalam mempergunakan ilmu
pengetahuan dan teknologi modern untuk melanggengkan kekuasaan. Ketiga, banyak pertentangan tajam antara
teori dan fakta dalam kaidah ilmu modern. Keempat,
ilmu pengetahuan dan teknologi modern gagal memecahkan problematika
kemanusiaan. Kelima, aspek mistis dan
metafisika terabaikan karena memberi perhatian lebih kepada dimensi fisik.
Gejala Postmodernisme
Postmodernisme merupakan gerakan kontemporer. Kata “post” pada
postmodernisme sering dipahami sebagai “pasca” “sesudah” dalam pengertian
urutan waktu, suatu kemajuan melampaui modernism. Apakah makna postmodernisme
adalah kelanjutan dari, reaksi terhadap, kritik
atas, revolusi menentang, dekonstruksi dari, perpecahan dengan, keterputusan
dari, atau persimpangan dengan modernisme.
Postmodernisme adalah gelombang kritik paling mutakhir terhadap modernisme
yang menjadikan sains, rasionalitas suatu “teologi” baru yang menghasilkan
kebudayaan matematis, kalkulatif, monolitik, dan kering batin. Menurut Yasraf
Amir Piliang postmodernisme adalah gerakan kebudayaan pada umumnya yang
bercirikan penentangan terhadap rasionalisme, totalilianisme, dan universalisme
serta kecenderungan kepada arah penghargaan akan keanekaragaman, pluralitas,
kelimpahruahan, dan fragmentasi dengan menerima kontradiksi, banalitas, dan
ironi di dalamnya.
Menurut
Malcolm Bradbury seperti dikutip Ahmed, istilah postmodernisme sudah muncul 30 tahun
lalu (berarti dalam konteks saat ini 50 tahun lalu). Sedangkan Charles Jencks
melihat istilah postmodernisme sudah mati dan digantikan dengan istilah The New
Modernism.
Ajaran Pokok
David
Harvey (1989) seperti dikutip Tony Thwaites dkk melihat estetika postmodernisme
merayakan perbedaan, kesementaraan, tontonan besar, fashion, dan komodifikasi bentuk-bentuk kultural. Gagasan
postmodernisme adalah semua yang ada adalah sebuah teks; bahwa bahan pokoknya
teks; apapun adalah makna-makna yang perlu diurai atau “didekonstruksi;”
pandangan yang objektif perlu dicurigai; dan hermenetika (dipahami sebagai
aliran filsafat yang bertujuan menafsirkan realitas sebagai teks) adalah
nabinya.
Secara
sederhana ajaran pokok postmodernisme terdiri dari 5 yaitu:
Ø Pertama,
menolak universalitas.
Ø Kedua,
menolak ideology.
Ø Ketiga,
menolak obyektivikasi.
Ø Keempat,
mengkritik semua jenis sumber pengetahuan.
Ø Kelima,
menolak metodologi yang tetap dan pasti.
Karakteristik
Mengutip Lyotard, Ahmed, mengatakan
ciri-ciri postmodernisme adalah memiliki keraguan terhadap metanaratif. Cara
yang paling sederhana mengenal postmodernisme adalah mengetahui ciri-cirinya.
Sementara
itu, dalam tataran praktis, Burhan Bungin mengidentifikasi beberapa ciri
masyarakat postmodernisme.Ia menyebutkan lima ciri yaitu :
- Pertama,
memiliki pola hidup nomaden.
- Kedua,
secara struktur mereka berada pada titik nadir.
- Ketiga,
lebih suka menghargai privasi sehingga memunculkan sikap aneh-aneh dan unik.
- Keempat,
kehidupan yang bebas membuat masyarakat postmodernisme menjadi sekuler dan
liberal.
- Kelima,
pemahaman yang bebas pula menyebabkan mereka cenderung mengadakan gerakan back to nature, back to village,back to
religi, dan sebagainya.
Tokoh
1.
Jean Francois Lyotard (10 Agustus 1924 - 21 April 1998).
Lyotard dianggap sebagai pentolan
postmodernisme nomor wahid. The
Postmodern Condition: A Report on Knowledge (1984), dijadikan acuan dalam
mendalami filsafat postmodernisme. Inti
gagasan Lyotard adalah runtuhnya narasi-narasi besar yang selama ini
diusung kaum modernisme. Meski begitu, pemikirannya dikritik habis oleh tokoh
Madzhab Frankfrut, Juergen Habermas, yang menyebutkan postmodernisme sebagai
modernism yang belum tuntas. Menurut
Habermas, pemikiran Lyotard memiliki kelemahan mendasar,Yakni dalam membuka
atau menilai apapun kita harus bersandar pada satu standar penilaian yang akan
menentukan benar/salah, baik/buruk.
2.
Jacques Derrida (15 Juli 1930 - 9 Oktober 2004).
Gagasan
pokok Derrida adalah dekonstruksi. Dekonstruksi adalah sebuah istilah yang
digunakan untuk menerangkan lembaran baru dalam filsafat, strategi intelektual,
atau model pemahaman. Derrida adalah
pemikir postmodernisme yang dianggap Habermas sangat dipengaruhi oleh pemikiran
irasionalitas Nietzsche dan Heidegger. Dekonstruksi
merupakan metode pembacaan teks. Dekonstruksi adalah strategi untuk memeriksa
struktur-struktur yang terbentuk dalam paradigma modernisme yang senantiasa
dimapankan batas-batasnya dan ditunggalkan pengertiannya.
3.
Michael Foucault (15 Oktober 1926 - 25 Juni 1984).
Gagasan
dasar Foucault adalah tentang hubungan pengetahuan
dan kekuasaan. Baginya, kekuasaan dan pengetahuan ibarat dua sisi mata uang
yang sama (two sides of the same coin).
Menurutnya, kegagalan teori Marx, misalnya, disebabkan Marxists dan
semiologists tidak memperhatikan hubungan antara kekuatan masyarakat dengan
komunikasi.
4.
Jean Baudrillard (27 Juli 1929 - 6 Maret 2007).
Berbeda dengan Lyotard, Derrida, dan Foucault yang bermain dalam
ranah epistemology, Jean Baudrillard mengkaji dalam dimensi postmodernisme yang
nyata, yaitu kebudayaan. Simulasi adalah
penciptaan keadaan melalui model atau yang berkaitan dengan sesuatu yang tidak
jelas mitos sehingga kebenarannya tidak dapat dipertanggungjawabkan dalam
realitas keseharian manusia. Keyword
dari simulasi adalah model. Hyperreality
atau realitas yang melampaui alamnya sendiri adalah sebuah kondisi
ketidakjelasan antara fakta dan fiksi; masa lalu dan masa kini; asli dan
rekayasa; dusta dan kebenaran; simbol dan realias karena hantaman informasi
yang luar biasa.
B.
Cultural Studies
Communication
is founding of our culture.
Membutuhkan
kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas untuk menyusun all about cultural studies
dalam sebuah ranah yang mudah dipahami.Cultural studies dianggap disiplin ilmu
yang mementingkan sensasi, menerobos wilayah kajian ilmu lain, antimetode, dan
ultrasubjektif.
Kegalauan Sematik
Awalnya culture berarti pengolahan tanah. Tokoh awal cultural
studies, Raymond Williams mendefinisikan budaya melalui pendekatan universal
yang mengacu pada makna bersama yang terpusat pada aktivitas sehari-hari:
nilai, material, simbolis, dan norma. Kebudayaan adalah pengalaman dalam hidup
sehari-hari yang diwarnai beragam teks, praktik, dan makna.
Williams
menyebut kajian budaya meliputi enam poin, yakni:
- Institusi-institusi yang memproduksi kesenian dan
kebudayaan.
- Formasi-formasi pendidikan, gerakan, dan faksi-faksi dalam
produksi kebudayaan.
- Bentuk-bentuk produksi, termasuk segala manifestasinya.
- Identifikasi dan bentuk-bentuk kebudayaan, termasuk
kekhususan produk-produk kebudayaan, tujuan-tujuan estetisnya.
- Reproduksinya dalam perjalanan ruang dan waktu.
- Cara pengorganisasiannya.
Dedy Mulyana, sambil mengutip Larry
A. Samovar dan Richard E. Porter, menyatakan ada 6 unsur budaya yang secara
langsung berhubungan dengan komunikasi, yaitu:
v Pertama,
kepercayaan (beliefs), nilai (values), sikap (attitudes).
v Kedua,
pandangan dunia (worldview).
v Ketiga,
organisasi sosial (social organization).
v Keempat,
tabiat manusia (human nature).
v Kelima,
orientasi kegiatan (activity
orientation).
v Keenam,
persepsi tentang diri dan orang lain (perception
of self and others).
Sejarah
Cultural
studies pertama kali muncul di Birmingham, Inggris melalui Birmingham Centre
for Contemporary Cultural Studies sekitar 1950an. Perintisnya adalah Richard
Hoggart dan Raymond Williams. Namun, cultural studies menemukan kejayaannya di tangan
Stuart Hall. Sebagai perbandingan tentang sejarah kelahiran culture studies
lain dari Richard West-Lynn H. Turner.
“Virus”
ini menyebar keberbagai daratan Eropa. Di Perancis, kelompok yang terlibat
bergabung dalam majalah Tel Quel yang didirikan Phillipe Sollers pada tahun
1960 – 1982. Majalah Tel Quel mencoba mengembangkan sebuah pendekatan dengan
menggabungkan unsur-unsur marxis, semiotik, dan psikoanalisis. Di Jerman,
cultural studies menapaki jalan yang dirintis sosiolog Marx Weber. Sedangkan di
Italia tapak cultural studies ditemukan dalam berbagai tulisan Umberto Eco.
Ada
dua jalur genealogi cultural studies. Pertama,
melihat kebudayaan sebagai efek hegemoni. Istilah hegemoni, diapungkan Antonio
Gramsci. Hegemoni berarti dominasi yang berlangsung tidak dengan cara paksaan
yang kasat mata melainkan dengan persetujuan pihak yang didominasi. Kedua, yang mendapat banyak pengaruh
dari pemikiran poststrukturalisme Perancis, terutama Foucault, menggeser
perhatiannya dari kontra-hegemoni dan resistensi terhadap kekuasaan menuju
perayaan terhadap kemajemukan satuan-satuan kecil.
Definisi
Cultural studies merupakan kritik atas definisi budaya yang
mengarah pada “the complex everyday world
we all ecounter and through which all move. Setidakny kita menemukan dua
batasan yang dapat memberikan penjelasan tentang konsep ini. Pertama, adalah ide umum di mana
masyarakat atau kelompok memahami ideologinya, atau cara-cara kolektif yang
digunakan suatu kelompok untuk memahami pengalamannya. Kedua, budaya dimengerti sebagai praktik-praktik atau keseluruhan
cara hidup suatu kelompok apa yang dilakukan individu secara material dari hari
ke hari.
Asumsi Dasar
Semua
asumsi dasar dalam kajian budaya diwarnai oleh pemikiran marxis. Ada dua pengaruh
penting dari marxisme terhadap kajian budaya yang pertama, untuk memahami makna kebudayaan. Kedua, kajian budaya mengasumsikan bahwa masyarakat industri
kapitalis merupakan masyarakat yang terbagi-bagi secara tidak adil dikalangan
etnik, gender, generasi, dan kelas.
Secara
singkat asumsi cultural studies terdiri dari pertama, culture pervades and invades all facets of human behavior.
Kedua, people are part of a his hierarchical of power.
Tokoh Kunci
Dalam ilmu komunikasi, kita mengenal Claude Shannon, Norbert
Wiener, Harold D. Lasswell, Kurt Lewin, Carl Hovland, dan Paul F. Lazarsfeld
sebagai perintis. Ada juga Wilbur Schramm yang menginstitusionalkan ilmu
komunikasi. Karena hampir semua tokoh berasal dari Amerika, lumrah bila ilmu
komunikasi pada awalnya pragmatis-positivistik.
Salah
seorang tokoh yang gencar mengkritik asumsi-asumsi dasar tersebut adalah Hall.
Pada titik ini, Hall bukan berperan sebagai perintis atau pelembaga sebuah
ilmu, ia berperan sebagai “pembongkar” ilmu.
BAB III
KEMUNCULAN JURNALISME BARU
A.
Jurnalisme dan Citizen Journalism
Jika
ditelisik secara historis, citizen
journalism merupakan gagasan yang ditemukan Jay Rosen, Pew Research Center,
dan Poynter Institute. J.D. Lasica, memaparkan jurnalisme warga kedalam lima
tipe, yaitu: pertama, situs web berita atau informasi independen, situs berita
partisipatoris murni, situs media kolaboratif
bentuk lain dari media tipis, dan situs penyiaran pribadi.
Menurut
Burn (News Blogs and Citijen Journalism) laporan
warga memiliki tiga kelebihan dibandingkan dengan berita media massa
tradisional, Yaitu:
Ø Pertama,
laporan warga adalah yang pernah melaporkan tentang kejadian dengan istilah di
TKP (Tempat Kejadian Perkara).
Ø Kedua,
tulisan warga tentang suatu peristiwa yang dipublikasikan menjadi sebagai
bacaan alternatif bagi masyarakat dari bacaan yang disajikan media tradisional.
Ø Ketiga,
jurnalisme warga bisa diakses 24 jam sehari dan tujuh hari satu minggu.
B.
Jurnalisme dan Ideologi
Ideologi,
kata Raymond Williams seperti dikutip John Fiske digunakan dalam tiga perangkat
yakni: Pertama, sistem kenyakinan
yang menandai kelas tertentu. Kedua,
cara memahami dan mengevaluasi segala benda dan gagasan yang membentuk
lingkaran sosial. Ketiga,
menyodorkan, usulan, metode, pendekatan, dan ideal untuk mengubah status quo
yang tidak memuaskan. Sebagai implikasinya ideologi, kata Eriyanto, memiliki 2 hal, Yakni, ideologi secara inheren bersifat
sosial dan tidak hanya digunakan sebagai fungsi koordinatif dan kohesif, tetapi
juga membentuk identitas kelompok sosial tersebut yang membedakan dengan
kelompok lain.
Secara
singkat John B. Thompson seperti dikutip M. Alfan Alfian menggambarkan ideologi
dalam tabel dibawah ini. Tiga Perspektif
Ideologi versi Thompson.
Sebagai
Sistem Kepercayaan
|
Sebagai
Proyeksi Sosial
|
Sebagai
Relasi Sosial
|
- Ideologi adalah orientasi
tindakan yang berisi kepercayaan yang terorganisir dalam suatu sistem yang
koheren.
|
- Ideologi adalah wacana yang
didasarkan pada ide yang mendasari tindakan politik dalam teori sekuler dan
rasional.
|
- Ideologi adalah sistem ide-ide
politik yang dapat diterapkan dengan kalkulasi politik.
|
- Ideologi adalah kumpulan
kepercayaan dan ketidakpercayaan (penolakan) yang diekspresikan dalam
kalimat-kalimat permohonan dan pernyataan eksplanatoris
|
- Ideologi terpisah dari kesadaran
mistis dan agama; ia menjustifikasi tindakan yang diinginkan melalui logika
dan bukti.
|
- Ideologi terkait dengan
kompleksitas praktik sosial yang tidak menyatu dengan sistem representasi
yang memiliki signifiknasi dan konsekuensi politik.
|
- Sebagai sistem kepercayaan,
ideologi terbagi kedalam ideologi fundamental dan ideologi operatif.
|
|
|
- Ideologi fundamental ialah
prinsip fundamental yang menyakini tujuan akhir dan padangan dasar yang akan
dicapai.
|
|
|
C.
Jurnalisme dan Konvergensi Media
Konvergensi
adalah perubahan teknologi, industry, budaya, dan sosial dalam lingkaran media termasuk
didalamnya budaya kita. Beberapa gagasan mendasar dari konvergensi antara lain
konten media mengalir ke beberapa platform media yang berbeda. Namun menurut
Yasraf Amir Piliang, teknologi realtime memerangkap setiap orang dalam tuntutan
akan hasil yang segera dengan mengabaikan proses.
Jurnalistik Interpretatif
Model jurnalistik interpretatif ini banyak dikembangkan
dimedia cetak, surat kabar, khususnya. Strategi interpretasi ini merupakan cara
untuk berbeda dengan berita online yang terlebih dahulu hadir. Artinya,
beritanya sama tetapi interpretasinya berbeda.
Model
jurnalistik interpretative sudah tidak menggunakan pola piramida terbalik dalam
menyajikan berita dan konstruksi 6W + 1H (What, Who, Why, Where, When, What Next
dan (How). Makanya polanya bukan 6W +1H, tetapi matriks 6W +1H (Dijelaskan
dalam sub-bab jurnalisme dan pencarian core meaning).
D.
Jurnalisme dan Krisis Berita
Yang
tersisa dari berita dalam era internet adalah medan yang sudah dikuasai dengan
baik dan pertempuran menangguk untung dan kompetisi isi berita yang akan terus
berlangsung pada masa mendatang. Justru, kabar terbaru dunia akan terus-menerus
datang dari media sosial seperti Fb, Twitter; jejaring terbuka yang memudahkan
warga berbagi informasi secara langsung, luas, dan dalam paket yang mudah
diakses.
E.
Jurnalisme dan Media Baru
Menurut
Jurgen Habermas (1989) dalam Transformasi
Struktual Ruang Publik, terjadi berbagai pergeseran sejarah dalam
jurnalisme: perdagangan berita yang dikembangkan dari sistem korespondensi
pribadi dan untuk penerbit lama. Kemudian ia dikumpulkan dan diorganisir
bernama berita untuk keuntungan sederhana.
Perkembangan
jurnalistik selanjutnya adalah ia sebagai perusahaan komersial yang berkembang
sekitar pertengahan abad ke-19 di Eropa
Barat. Ini dipicu oleh munculnya kebebasan sebagai salah satu hak
konstitusional dan kemunculan iklan menjanjikan pengembalian investasi, pada
sisi yang lainnya. Akibat dari pola ini menurut Habermas, pers menjadi kurang
partisan dan memungkinkan untuk berkonsentrasi pada peluang bisnis. Habermas
sambil mengutip Blicher melanjutkan, dalam keadaan ini kertas merupakan
karakter suatu perusahaan yang menghasilkan ruang iklan sebagai komoditas yang
dibuat berharga melalui bagian editorial.
Krisis Jurnalistik
Menurut
Tood Gitlin (2009), meskipun dalam konteks tahap saat jurnalisme, ia
berpendapat dalam kondisi seperti ini istilah ‘krisis’ yang sangat tepat.
Gitlin menunjukkan kondisi krisis jurnalisme ini dengan mengidentifikasi 5 indikator
Yaitu:
v Jatuhnya
sirkulasi.
v Jatuhnya
pendapatan advertising.
v Difusi
perhatian.
v Krisis
yang berwenang.
v Ketidakmampuan
atau keengganan jurnalisme mempertanyakan struktur kekuasaan semua
berkontribusi untuk membawa krisis yang mendalam jurnalisme.
Waktu dan Jurnalisme
Castells
(2000) membahas tentang cara dimana media baru mengubah konsepsi tentang waktu.
Ia mengembangkan gagasan waktu abadi, sebagai cirri dari masyarakat jaringan. Waktu adalah abadi justru karena tidak
bisa lagi dibagi, diukur, dan terkotak kedalam slot tertentu. Dalam masyarakat
jaringan, waktu sedang berlangsung, terus menerus sebagai ritme adalah 24/7.
F.
Jurnalisme dan Pencarian Core Mining
Komunikasi mengenal 2 madzhab, Yakni
aliran penyampaian pesan (madzhab transmisi) dan aliran pertukaran makna
(madzhab semiotika). Ungkapan Harold Laswell who, says what, in which channel, to whom, with what effect (siapa
mengatakan apa melalui saluran kepada siapa dengan efek apa) adalah yang
menandaskan tentang aliran perpindahan pesan ini.
Kalau dalam komunikasi madzhab
transmisi elemen pokoknya adalah komunikator, pesan dan komunikan. Sedangkan
dalam madzhab semiotika yang menjadi elemen dasarnya adalah author (pengarang), teks budaya, dan
reader (pembaca).
G.
Jurnalisme dan Pertukaran Makna
Berita
adalah tulisan, tayangan, atau siaran tentang fakta dari satu peristiwa atau
kejadian yang dimuat atau disiarkan oleh media massa dengan menggunakan
konstruksi 5W +1H ( What, Why, Who,
Where, dan When serta How). Makna terjadi karena ada tanda. Ada tiga jenis
makna dalam sebuah proses komunikasi Yaitu, makna si penutur, makna bagi si
pendengar, dan makna tanda (sign meaning) yang melekat pada tanda itu sendiri.
H.
Jurnalisme Interpretatif
Seperti
dikemukakan dalam beberapa tulisan sebelumnya, kehadiran internet sebagai
pemicu munculnya situs berita (jurnalistik online) telah menggeser model
pemberitaan di media cetak, khususnya surat kabar. Dibawah ini disajikan contoh
model jurnalisme interpretatif dalam kasus dugaan suap yang melibatkan Ketua
SKK Migas Rudi Rubiandini. Ia menjadi headline empat koran, Rabu 14 Agustus
2013. Keempat koran nasional tersebut adalah Koran Tempo, Koran Sindo, Kompas,
dan Media Indonesia.
I.
Jurnalisme, Agama, dan Pertanggungjawaban
Agama memiliki dua peran mulia,
privat dan publik. Dibutuhkan garis pemisah yang tegas dari dua wilayah
tersebut. Pemisahan ini menjadikan Negara tidak salah peran. Dimensi kenyakinan
dan ritual yang sangat subjektif adalah mutlak milik pribadi. Sedangkan dimensi
moralitas, interaksi sosial, dan pengembangan masyarakat masuk diwiilayah
publik. Padahal, agama adalah problem
solver masalah-masalah kemanusiaan.
Kebangkitan agama di wilayah publik
menurut Peter Berger (1999) sebagai desekularisasi dunia atau deprivatisasi
agama. Agama publik kata Jose Casanova lebih memberi nilai positif bagi pengembangan masyarakat daripada agama
sebagai urusan privat yang kering makna dan tuna akselerasi moral.
Pertanggungjawaban
Adalah duambahnya jurnalistik, Bill
Kovach dan Tom Rosentiels, yang mendeklarasikan elemen utama jurnalisme adalah
pada pencarian kebenaran. Ironisnya kebenaran adalah sesuatu yang abstrak dan
sulit untuk didefinisikan, bahkan cenderung kontroversial. Makanya untuk
menghindari multitafsir tentang kebenaran yang disodorkan, Kovach dan
Rosentiels, menambahkan elemen kedua jurnalistik adalah loyalitas utama
jurnalisme adalah pada warga Negara.
Untuk menghindari ketidakjelasan dua
elemen diatas, Kovach dan Rosentiels menambahkan elemen ketiga yang lebih
konkret, yaitu disiplin dalam melakukan verivikasi fakta. Ada lima item
indikator dalam verifikasi fakta, Yaitu: wartawan jangan menambah atau
mengarang apa pun, jangan menipu atau menyesatkan pembaca, pemirsa, maupun
pendengar, bersikaplah setransparan dan sejujur mungkin tentang metode dan
motivasi, bersandarlah terutama pada
reportase sendiri, dan bersikaplah rendah hati. Tiga elemen yang
dikemukakan diatas merupakan bagian dari Sembilan elemen yang dikemukakan
Kovach dan Rosentiels.
Pers Pancasila
Dalam disiplin ilmi komunikasi
dikenal dengan empat teori pers. Hal ini berangkat dari pemetaan Fred S.Siebert,
Theodore Peterson dan Wilbur Schramm dalam bukunya Four Theories of The Press. Keempat teori per situ adalah teori
pers otoriter, teori pers tanggung jawab sosial dan teori pers komunis Uni
Soviet. Pakar komunikasi massa, Denis McQuail, menambahkan dua teori pers lain,
yaitu teori pers pembangunan dan teori pers partisipan demokratik.
Enam teori pers situ pun dianut
secara luas di negeri ini. Namun, di Indonesia ada satu teori pers lagi yakni
teori pers Pancasila. Menurut pencetus teori pers Pancasila, Anwar Arifin,
teori ini memiliki beberapa ciri khas. Pertama, bersandar dan memiliki falsafah
dasar sebagaimana negara kita, Pancasila. Lima sila dalam Pancasila merupakan
prinsip dasar dari para pekerja jurnalistik di Indonesia. Pancasila menjadi
landasan etis dan kerangka filosofis dalam setiap gerak insan pers negeri ini
dalam menghasilkan karyanya, berita. Dalam konteks itulah teori pers Pancasila
khas milik Indonesia; tidak dimiliki negara lain.
Kedua, pers Pancasila adalah
jembatan di antara semua teori pers. Ia bukan merupakan bagian dari enam teori
pers. Pers Pancasila berada di tengah-tengah. Ia tidak liberal. Pun, tidak
otoriter. Ia bukan bagian dari pers Uni Soviet. Juga berbeda dengan teori pers
pembangunan dan partisipan emokratik. Pers pancasila merupakan perangkum
kelebihan enam teori pers.
Ketiga, perbedaan pada persoalan pertanggungjawaban.
Dalam enam teori pers, semua produk jurnalistik berorientasi dan hanya
diperuntukan untuk kemanusiaan. Landasan kerjanya adalah profesionalisme dan kode
etik jurnalistik. Sedangkan dalam teori pers Pancasila, selain
pertanggungjawaban kepada nilai-nilai dasar kemanusiaan yang bersifat horizontal,
juga ada pertanggunjawaban kepada Tuhan yang bersifat vertikal. Landasannya selain
kode etik jurnalistik dan profesionalsime, ada juga yang menjadi acuan kerjanya
yakni agama yang dianut para pekerja pers. Munculnya pertanggungjawaban di
akhirat ini sebagai konsekuensi logis dari kerangka filosofis pada sila
pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa.
Oleh sebab itu, dalam konteks riuh
rendah pemberitaan pilpres saat ini, selayaknya insan pers negeri ini memegang
teori pers Pancasila dengan tiga karakteristik yang sudah dikemukakan di atas. Penulis
optimistis jika pekerja pers Indonesia memegang teguh prinsip-prinsip dasar
teori pers Pancasila, otomatis Sembilan elemen jurnalistik yang dikemukakan Kovach
dan Rosentiels telah dilakukan.
Penulis ingin menegaskan bahwa dalam
konteks Indonesia, pers atau media tidak hanya bertanggung jawab untuk mentaati
kode etik jurnalistik sebagai standar profesionalisme, tetapi juga harus
memihak pada nilai agama yang dianutnya. Artinya, selain ada pertanggungjawaban
di dunia, pekerja pers negeri ini harus menyakini pekejraan mereka juga akan
diminta pertanggungjawaban di akhirat, kelak. Inilah karakter sesungguhnya pers Indonesia.